Senin, 13 Agustus 2012

Skyscraper - Demi Lovato

Skies are crying, I am watching
Catching tear drops in my hands
Only silence as it's ending
Like we never had a chance
Do you have to make me feel like
There's nothing left of me?

 You can take everything I have
You can break everything I am
Like I'm made of glass
Like I'm made of paper
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper
Like a skyscraper

 As the smoke clears, I awaken
And untangle you from me
Would it make you feel better
To watch me while I bleed?
All my windows still are broken
But I'm standing on my feet

 You can take everything I have
You can break everything I am
Like I'm made of glass
Like I'm made of paper
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper
Like a skyscraper

 Go run, run, run
I'm gonna stay right here,
Watch you disappear
Yeah, oh
Go run, run, run
Yeah, it's a long way down
But I am closer to the clouds up here

 You can take everything I have
You can break everything I am
Like I'm made of glass
Like I'm made of paper
Oh Oh
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper
Like a skyscraper

Somebody That I Used To Know

Now and then I think of when we were together
Like when you said you felt so happy you could die
Told myself that you were right for me
But felt so lonely in your company
But that was love and it’s an ache I still remember
You can get addicted to a certain kind of sadness
Like resignation to the end, always the end
So when we found that we could not make sense
Well you said that we would still be friends
But I’ll admit that I was glad it was over
But you didn’t have to cut me off
Make it like it never happened and that we were nothing
And I don’t even need your love
But you treat me like a stranger and that feels so rough
No you didn’t have to stoop so low
Have your friends collect your records and then change your number
I guess that I don’t need that though
Now you’re just somebody that I used to know
Now you’re just somebody that I used to know
Now you’re just somebody that I used to know
Now and then I think of all the times you screwed me over
But had me believing it was always something that I’d done
But I don’t wanna live that way
Reading into every word you say
You said that you could let it go
And I wouldn’t catch you hung up on somebody that you used to know
But you didn’t have to cut me off
Make it like it never happened and that we were nothing
And I don’t even need your love
But you treat me like a stranger and that feels so rough
And you didn’t have to stoop so low
Have your friends collect your records and then change your number
I guess that I don’t need that though
Now you’re just somebody that I used to know

Sabtu, 11 Agustus 2012

Moon Over My Obscure Little Town

Stranger
Stranger
Someone stranger
Standing in a mirror
I can't believe what I see
How much love has been taken away from me

My heart cries out loud
Everytime I feel lonely in the crowd
Getting you out of my mind
Like separating the wind from the cloud

Afraid
Afraid
 I'm so afraid of losing someone I never have
Crazy, crazy
Finding reasons for my jealousy

All I can remember
When you left me alone
Under the moon over my obsecure little town
As long as I can remember
Love has turned to be as cold as December

The moon over my obsecure little town 

By : Unknown

Senin, 06 Agustus 2012

Seseorang yang tak ku kenal

Pepatah bilang," tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka tak cinta." Bagaimana mungkin dua orang manusia saling jatuh cinta jika mereka tidak pernah saling mengenal?

Aku sedang asyik bergurau dengan teman-temanku di kelas. Tiba-tiba seorang anak laki-laki masuk ke kelasku. Dia adalah Arya, teman sekelasku saat aku masih duduk di kelas satu Smp. Dia tidak sendirian. Dia masuk ke kelasku bersama seorang anak laki-laki yang memiliki tubuh sedikit lebih tinggi darinya. Arya melangkah menuju kursi ku. Sementara anak laki-laki itu hanya berdiri di depan pintu.
" Ra, kamu bawa buku matematika gak?"
"Iya, emang kenapa?
"Aku lupa bawa buku matematika nih hehe. Boleh pinjem gak? Nanti pas pulang sekolah aku balikin".
"Oh iyaiya, nanti pas pulang aku tunggu di kelasku ya."
"Oke." jawabnya dengan singkat.

Dirumah, aku masih teringat akan sosok anak laki-laki tadi. Aku tak mengerti, seolah-olah dia tidak ingin pergi dari pikiranku. Hah, apa-apaan ini. Masa bodoh, lebih baik aku mengerjakan tugas saja. 

Keesokan harinya, Arya datang lagi ke kelasku. Kali ini ia hanya sendirian. "Yah.. kok sendirian sih. Kenapa gak ajak temen kamu kemaren" aku berkata dalam hati.
"Ra, kemaren aku lupa balikin buku kamu, sorry ya" ucap Arya.
"Hmm iya iya gapapa kok" balasku sambil tersenyum.

Bel pulang berbunyi. Semua anak keluar kelas dengan semangat. Ekspresi teman-temanku saat mendengar bel pulang terlihat sangat ceria, sangat kontras dengan ekspresi mereka saat mendengar bel masuk. Ya, begitulah teman-temanku. 

Aku pulang kerumah. Dirumah, aku kembali memikirkan tentang anak laki-laki itu. Siapa namanya? Apakah dia teman sebangku Arya? Apakah dia sedang sakit sehingga dia tidak masuk sekolah? Atau... jangan-jangan dia pindah sekolah? Semua pertanyaaan-pertanyaan bodoh itu melintas di pikiranku. Apa yang sedang aku lakukan? Untuk apa aku memikirkannya?  

Hari ini, aku kembali melihat anak laki-laki itu. Aku melihatnya berjalan menuju kelasku bersama Arya. Ya, mereka datang ke kelasku untuk hal yang sama seperti sebelumnya, mereka datang untuk meminjam kamus bahasa inggris.

Bel masuk berbunyi. Aku melihat Arya dan anak laki-laki itu berdiri di depan kelasku.
" mas, nih kamu aja yang balikin ke Rara"
" gak ah, kamu aja deh"
"ciee.. emang kenapa? udah, gak usah malu-malu deh"
"kamu aja ya yang balikin" ucapnya sambil tersenyum

Itu adalah percakapan singkat yang ku dengar dari Arya dan anak laki-laki itu sebelum Arya mengembalikan kamus milikku yang ia pinjam satu jam yang lalu.

Anak laki-laki itu semakin sering datang ke kelasku untuk alasan yang sama, yaitu meminjam barang-barangku, kamus, buku, pensil, dll. Dia juga sering berdiri di depan kelasku, entah apa tujuannya. Suatu hari aku tidak sengaja melihat anak laki-laki itu sedang memperhatikanku. Ada perasaan yang tidak bisa terdeskripsikan saat aku tahu dia sedang memperhatikanku. Aaa.. senangnyaa.. Ah tapi sudahlah mungkin aku cuma ge-er. Tapi harus ku akui aku benar- benar senang saat itu.

Anak laki-laki itu semakin sering ke kelasku. Aku juga semakin sering melihat dia sedang memperhatikanku. Kami pernah saling melihat satu sama lain, aku membuang pandanganku, begitu juga anak laki-laki itu. Aku semakin sering memikirkannya. Perasaan aneh sering muncul saat aku melihat anak laki-laki itu. Entahlah, harus ku sebut apa perasaan aneh itu. Jatuh cinta? bagaimana mungkin. Aku tidak mengenalnya. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya.

Anak laki-laki itu, ia selalu muncul di dalam pikiranku. Otakku seolah telah di penuhi oleh bayangan wajahnya. Entah sihir apa yang telah ia gunakan. Aku tidak mengerti. Aku tidak pernah mau berhenti memikirkannya, sampai suatu hari ketika jam istirahat aku melihat anak laki-laki itu datang lagi ke kelasku. Ia melangkah perlahan menuju kekelas ku. Ku lihat dengan saksama sosok laki-laki itu tersenyum ke suatu arah. Ia tersenyum pada seorang gadis yang duduk di sudut ruang kelas, ia adalah Nindy, sahabatku.
"Ciee Nindy.. ada yang dateng tuh"
"Cieciee yang baru jadian traktirannya dong"
Itu adalah kalimat yang kudengar dari mulut teman-temanku. Apa maksudnya? Traktiran? Baru jadian? Siapa yang mereka maksud? Nindy dan anak laki-laki itu?

Cukup. Kini aku mengerti apa yang tujuan anak laki-laki itu datang ke kelas ku selama ini. Mampir ke kelasku setiap jam istrirahat. Berpura-pura meminjam kamus, buku, dan pensil pada ku. Ia selalu datang ke kelasku, untuk alasan yang sama, untuk melihat Nindy.

Perasaanku hancur berantakan mengetahui semua itu. Aku harus menerima kenyataan bahwa saat ini anak laki-laki itu mempunyai hubungan spesial, dengan sahabatku sendiri. Apakah aku harus membenci sahabatku karena saat ini ia bersama orang yang aku suka? Apakah aku harus membenci anak laki-laki itu karena ia lebih memilih untuk bersama Nindy daripada aku? Atau aku harus benci pada diri sendiri karena selama ini aku melakukan hal yang bodoh, jatuh cinta pada seseorang yang tidak ku kenal? Sudahlah, itu semua tidak penting. Itu semua adalah sebuah mimpi indah dalam tidurku tadi malam.
Sejak hari itu, aku mencoba untuk menghapus semua, semua perasaanku, semua keingintahuanku akan dirinya. Aku sudah tidak peduli apa yang ia lakukan. Tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan bodoh yang melintas di otakku. Aku tak peduli lagi apa tujuannya datang ke kelasku. Aku tak peduli lagi apakah ia masuk sekolah atau tidak. Aku tidak peduli lagi semua tentangnya. Aku bahkan tak peduli lagi akan pertanyaan teramat bodoh yang pernah ada, yaitu siapa nama anak laki-laki itu.
Satu tahun berlalu. Ku dengar bahwa anak laki-laki itu sudah tak lagi bersama Nindy. Aku masih sering bertemu anak laki-laki itu. Aku masih sering melihatntya lewat di koridor kelasku. Aku pernah melihatnya, ia sedang menatap ke arahku. Tapi apa pentingnya buatku. Aku sudah benar-benar tak ingin peduli padanya, meskipun sebenarnya perasaanku padanya belum hilang sama sekali.
                                       ***
Kini, aku sudah duduk di bangku kelas tiga Sma. Aku sangat menikmati masa-masa di bangku Sma yang sebentar lagi akan berakhir. Di perjalanan pulang menuju kerumah aku mencoba mengingat kenangan-kenangan yang masih tersimpan di memoriku. Ketika aku sedang asyik mengingat kenangan-kenangan indah di pikiranku sembari melangkahkan kaki, tiba-tiba aku merasa terkagetkan akan sosok seorang laki-laki yang rasanya tidak asing bagiku. Langkah kakiku terhenti seketika. Aku menatap wajah anak laki-laki itu sambil mencoba untuk mengingat siapa ia sebenarnya. Ia melakukan hal yang sama. Ia menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arahku. Kami saling menatap satu sama lain. Tatapan yang terselip perasaan aneh di dalamnya. Aku ingat! Aku ingat siapa laki-laki itu. Dia, adalah seorang anak laki-laki yang aku suka saat duduk di bangku smp dulu. Dia adalah teman Arya yang tidak ku ketahui siapa namanya. 
Ingatan-ingatan dari masa lalu itu muncul. Aku ingat aku pernah jatuh cinta padanya. Aku ingat akan sakit hatiku dulu ketika aku tahu dia berpacaran dengan sahabatku sendiri. Aneh. Aku tidak pernah tahu tentang dirinya. Kami tak pernah saling menyapa. Kami bahkan tak pernah mengenal satu sama lain. Aku menyimpan perasaan padanya. Entah harus ku namai apa perasaan itu. Terlalu bodoh jika aku menyebutnya cinta.
Ia terlihat ingin mengucapkan sesuatu yang sangat penting padaku. Aku membalik badanku. Ku percepat langkah kaki ku. Dengan segera ku tinggalkan anak laki-laki itu bersama perasaan aneh yang pernah ia berikan padaku. Dan itu adalah terakhir kalinya aku melihat anak laki-laki itu. Sebuah akhir, dari pertemuan yang tidak pernah memiliki awal.

Aku tahu, bahwa kau tak pernah tahu apa yang pernah ku rasakan padamu. Aku juga tak pernah tahu apakah kau pernah merasakan hal yang sama. Aku tak perlu memberitahu mu. Dan kau juga tak perlu memberitahu ku. Cukup ceritakan semuanya pada hati kita masing-masing.

Untukmu, seseorang yang tidak ku kenal dan yang tidak pernah mengenalku.